September 02, 2013

Tanggapan Miss World Bali dan Ajang Kontes Serupa

Hehehe anda mau mengganti missworld dengan missmuslimah?! Seperti para wali songo yang mengganti dan mengisi budaya dengan ajaran islam gitu?! Ya terserah andalah, andai menurut anda sebanding dan bisa mengikis efek negatifnya ya silahkan saja. Bagi saya substansi masalahnya tidak disitu.

Segala macam kontest kecantikan, apapun bentuknya, adalah produk gagal bin produk cacat modernitas di depan martabat kemanusiaan. Titik awal acara sejenis ini adalah hiburan. Menjual materi/barang yang dianggap punya nilai jual untuk mengeruk keuntungan. Barang itu, di sini, adalah kecantikan wanita. Seorang manusia. Manusia yang menjual manusia adalah manusia sakit. Masyarakat yang memperdagangkan anggota masyarakatnya, demi keuntungan, adalah masyarakat sakit. Tak perlu heran, bukannya kritik yang menunjukkan masyarakat modern adalah masyarakat sakit banyak bergentayangan?.
Juara Miss World Bali Indonesia
Juara Miss World Bali Indonesia
Saya tak munafik; bahwa kecantikan memang menarik. Ia memukau, menawan, menghasut rasa iri, rasa ingin memiliki dan insting liar kebinatangan yang terkadang tak mampu dikontrol pemiliknya.

Apa sih yang ada di kepala wanita-wanita yang dianggap jelek, tidak memenuhi standar untuk diperlombakan, ketika melihat robot-robot cantik yang lagi dipertontonkan dan diperdagangkan di atas catwalk? Iri kah? Rendah diri kah? Keinginan untuk ikut cantik dengan mengorban segala hal kah? Atau jangan-jangan ingin ikut memperdagangkan?

Apa yang ada di kepala jutaan mata kaum Adam melihat barang dagangan cantik menggoda kelakian berjalan di atas pentas? Apa semua isi kepala dan hati mereka sama lurus tak tergoda? Berapa persen yang lurus dan berapa persen yang langsung ngeres? Berapa persen kasus orang ngeres di masyarakat anda?! Pacaran sampe hamil misalnya? selingkuh? perkosaan? pelecehan seksual? aborsi? de el el deh.

Acara kontes seperti ini hanya akan melahirkan dan menunjukkan ketimpangan dalam masyarakat sosial. Masyarakat sakit. Inilah produk gagal modernitas yang mendera kehidupan masyarakat modern. Apa gunanya mengimpor penyakit? Bukannya anak SMP di Negara Indonesia itu udah ada yang berprofesi sebagai germo?! Menjajakan teman dan saudarinya, demi untuk mendapatkan keuntungan dan kemegahan hidup. Penyakit apalagi yang ingin anda nanti dan nikmati?

Hemat saya; Anda tidak sedang mengadopsi modernisme secara kritis. Anda sedang mengimpor efek negative alias penyakit modernitas. Anda sedang membangun masyarakat timpang dengan efek negative sebuah produk timpang.

Tapi kalau anda bisa mengubah, memperbaiki dan menghindari semua efek negative itu, ya silahkan..

Hanya saja hemat saya; kita tidak perlu membangun jati diri kita sendiri dengan meminjam produk asing. Pemikirannya iya, untuk kita olah-pikirkan lagi. Tapi produknya; saya kira, itu bukan untuk kita!

Ditulis Oleh : Suhardian Syah - Dalam Post Ini

3 komentar:

Back to top